PROBOLINGGO KLIKSURABAYA CO ID-Pemerintah Kota Probolinggo dan Pemerintah Kota Ternate memperkuat sinergi dan kolaborasi antardaerah melalui High Level Meeting (HLM) Pengendalian Inflasi Daerah sekaligus Penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Pengembangan Potensi Daerah, Rabu (2/9), di Puri Manggala Bhakti, Kantor Wali Kota Probolinggo.
Kegiatan tersebut mempertemukan jajaran Pemerintah Kota Probolinggo dan Pemerintah Kota Ternate bersama Bank Indonesia, perangkat daerah terkait serta pelaku usaha komoditas. Ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerja sama, khususnya dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi komoditas pangan sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyampaikan kerja sama antardaerah menjadi kebutuhan penting karena setiap wilayah memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan daerah yang memiliki surplus komoditas dengan daerah yang membutuhkan pasokan.
Orang nomor satu di Kota Bersolek ini mengatakan, salah satu komoditas yang menjadi fokus kerja sama awal kedua daerah adalah bawang merah. Kota Probolinggo memiliki potensi produksi bawang merah yang cukup besar, sementara Kota Ternate menghadapi kebutuhan pasokan yang tinggi.
“Ini akan menambah semangat Asosiasi Bawang Merah Kota Probolinggo untuk bekerja sama. Dan saya siap, untuk komoditas lain pun bisa dilakukan kerja sama,” katanya.
Berbagai potensi pertanian dan komoditas lainnya di Kota Probolinggo, seperti jagung, cabai, pisang serta produk peternakan dan perikanan, terbuka untuk dikembangkan melalui jejaring kerja sama antardaerah.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pengendalian inflasi merupakan salah satu perhatian utama Pemerintah Kota Probolinggo. Berbagai langkah dilakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), BPS dan Bank Indonesia, termasuk pelaksanaan Gerakan Pasar Murah secara rutin. “Gerakan pasar murah terus kita lakukan melihat hasil rapat TPID setiap minggunya. Hampir setiap Selasa dan Kamis kita lakukan,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Ternate Rizal Marsaoly menjelaskan, sekitar 80 persen kebutuhan sejumlah bahan pokok atau komoditas di Kota Ternate masih didatangkan dari luar daerah. Kondisi geografis Kota Ternate yang merupakan wilayah kepulauan juga menjadi salah satu tantangan dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi pangan.
Terlebih, Kota Ternate memiliki posisi strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan wilayah penyangga bagi kabupaten/kota lainnya di Maluku Utara. Kondisi tersebut membuat kebutuhan komoditas pangan di Ternate cukup besar.
“Kalau ada situasional, ada momen-momen tertentu misalnya Lebaran atau Natal dan Tahun Baru, kelangkaan-kelangkaan ini sering terjadi yang kemudian menyebabkan inflasi yang cukup tinggi,” ungkapnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Ternate menyambut baik peluang kerja sama dengan Kota Probolinggo, khususnya dalam pemenuhan komoditas bawang merah. Kerja sama tersebut diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dengan aksi nyata antara pelaku usaha kedua daerah.
Selain bawang merah, Pemerintah Kota Ternate juga membuka peluang kerja sama untuk berbagai komoditas lainnya. Dengan posisi Ternate sebagai pusat perdagangan dan jasa di Maluku Utara, kerja sama tersebut dinilai dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk dari Kota Probolinggo.
“Selain bawang merah, kami juga siap untuk bekerja sama melalui kerja sama untuk hal-hal apa saja yang akan kita lakukan ke depan,” tuturnya.
Puncak seremoni ditandai dengan persiapan dan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Kota Probolinggo dan Pemerintah Kota Ternate tentang Penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Pengembangan Potensi Daerah.***







